Menggambar Ulang Timur Tengah ala Trump-Netanyahu

11 hours ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Oleh : Smith Alhadar, Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) dan Penasihat Institute for Democracy Education (ISMES)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari ini kekuatan neokonservatif AS di bawah Presiden Donald Trump dan pemerintahan sayap kanan rasis Israel pimpinan PM Benjamin Netanyahu sedang mencoba menulis ulang Timur Tengah di mana Israel adalah hegemon yang mengendalikan  kawasan vital itu sebagai proksi AS. Ini pekerjaan yang tidak mudah – dan kontraproduktif – di tengah resistensi seluruh negara di kawasan.

Timteng baru adalah kawasan tanpa rezim mullah Iran, tanpa negara berdaulat Palestina, dan tanpa Hamas, Hizbullah, Houthi, dan Kataib Hizbullah di Irak. Untuk itu Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) pimpinan Trump diluncurkan dan pengerahan aset militer AS skala besar di sekitar Iran untuk memaksakan pergantian rezim di sana.

Tapi Teheran juga telah mengokang senjata siap untuk membalas seketika serangan AS. Sementara ruang diplomasi sangat sempit. AS mengajukan syarat-syarat penghindaran perang yang mustahil bisa dipenuhi Iran. Syarat-syarat itu adalah Iran menghentikan secara total program nuklir dan rudalnya serta menghentikan dukungan pada proksi-proksinya di Kawasan.

Trump masih buying time menunggu Iran menyerah karena dampak perang tak dapat diprediksi dan sulit dikontrol. Sangat mungkin serangan AS kali ini hanya ditujukan untuk membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan tokoh-tokoh pentingnya untuk memungkinkan pergantian rezim  Tapi skenario ini ceroboh dan superfisial.

BoP bertujuan menguburkan cita-cita Palestina memiliki negara. Dus, BoP dan regime change di Iran merupakan proyek Zionis untuk mewujudkan Israel Raya. Kekhawatiran inilah yang mendorong Turki, Arab Saudi, Oman, dan Qatar, melakukan deeskalasi. Perang  akan mendestabilisasi kawasan yang bertentangan dengan visi masa depan mereka.

Upaya meruntuhkan rezim mullah telah dilakukan para presiden AS sejak berdirinya Republik Islam pada 1979 melalui revolusi yang meruntuhkan Dinasti Pahlevi, sekutu strategis AS dan Israel. Setelah peluncuran BoP yang kontroversial, tetapi didukung kubu Arab-Islam, Netanyahu juga melihat konsep Strategi Keamanan Nasional AS sejalan dengan proyek Zionisme.

BoP, yang dikendalikan Trump secara mutlak, tidak menyebut Gaza dan tidak menyertai Palestina dalam pengambilan keputusan. Memang BoP disebut berbasis pada Resolusi DK PBB 2803. Tetapi Cina dan sekutu penting AS di Eropa – seperti Perancis, Inggris, Jerman, Italia, Spanyol – menolak bergabung karena BoP tidak sesuai dengan semangat resolusi DK PBB 2803.

BoP mestinya bersifat inklusif dengan menyertakan semua anggota PBB. Faktanya, lembaga ini dipimpin Trump, menantunya Jared Kushner, dan kroni-kroninya. Tugas BoP adalah rekonstruksi Gaza dengan terlebih dahulu melucuti pejuang bersenjata Palestina di sana. Karena itu, BoP memiliki instrumen militer,  Pasukan Stabilisasi Internasional, pimpinan AS untuk melakukan tugas ini

 Sementara itu, rezim mullah harus dibubarkan karena dia  satu-satunya kekuatan di Timteng yang independen, strategis secara geografis, dan kaya energi. Ini dilihat sebagai ancaman eksistensial Israel. Sama sebagaimana Iran, berdirinya negara Palestina dipandang akan menguburkan aspirasi biblikal Israel untuk mewujudkan Israel Raya dan mengancam eksistensinya di masa depan.

Dus, dua hal ini harus dicegah berapa pun ongkosnya. Tapi Israel tak mampu melakukannya sendirian. Pada Juni tahun lalu, Israel mengerahkan 200 jet tempur dalam menyerang Iran. Belakangan AS ikut membantu mengebom situs nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Puluhan petinggi militer dan pakar nuklir Iran tewas. Tapi misi itu gagal mencapai tujuannya.

Dengan kapasitas militer yang digdaya disertai impunitas yang diberikan AS dan sekutu Barat, Israel juga gagal menundukkan Hamas, Hezbollah, dan Houthi. Di Suriah, Israel melancarkan serangan ke seluruh situs-situs militer pasca keruntuhan rezim Bashar al-Assad. Upaya melemahkan pemerintahan baru di bawah Presiden Interim Ahmad al-Sharaa dengan mendorong pemberontakan Druze dan Kurdi juga tak membuahkan hasil.

Upaya melucuti Hizbullah di Lebanon juga gagal. Kendati gencatan senjata Hizbullah-Israel yang dimediasi AS telah dicapai pada November 2024, Israel tak mematuhi syarat gencatan senjata yang mengharuskannya mundur dari tertitori Lebanon. Dan AS mendiamkannya. Bahkan, sampai kini Israel masih menyerang Lebanon selatan yang menyerupai ethnic cleansing. Kalau pemerintahan Presiden Joseph Aoun memaksakan diri melucuti Hezbollah sesuai janjinya pada AS, maka potensi perang saudara di sana tak terelakkan.

Perkembangan di Yaman pun tidak menggembirakan Israel. Sekonyong-konyong kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC) dukungan UEA melakukan ekspansi ke timur, yang memicu konflik UEA dengan Arab Saudi yang mendukung Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) yang legitimasinya diakui PBB. Konflik STC-PLC yang tadinya berada dalam satu kubu menguntungkan Houthi.

Proyek Zionisme membangun Israel Raya menemukan momentum ketika Trump kembali ke Gedung Putih. Dalam konsep Strategi Keamanan AS yang dirilis tahun lalu, pemerintahan Trump memprioritas hegemoninya di western hemisphere (belahan barat) sesuai Monroe Doctrine yang mengamanatkan AS  menjadikan Amerika Latin bebas dari pengaruh kekuatan luar kawasan.

Maka, kita menyaksikan AS menyerang Venezuela, menculik Presiden Nicolas Maduro, dan mengancam Kuba. Keduanya merupakan sahabat Cina, Rusia, dan Iran. Trump juga mengancam akan merampas Greenland milik Denmark yang, sebagaimana Venezuela dan Iran, menyimpan minyak dan mineral tanah jarang yang strategis.

Dalam Strategi Keamanan Nasional-nya, pemerintahan Trump tak lagi menjadikan Timteng sebagai prioritas kebijakan luar negerinya. Untuk itu, Israel bisa menjaga keamanannya sendiri sehingga AS bisa mengurangi kehadiran militernya di kawasan itu, yang berbiaya tinggi. Dengan sendirinya, Iran sebagai ancaman harus dilenyapkan dan isu Palestina dihilangkan untuk memungkinkan integrasi Israel ke dalam Timteng melalui Abraham Accord (Perjanjian Ibrahim).

Setelah perang 12 hari pada Juni gagal mencapai tujuan, momentum muncul kembali menyusul kaum pedagang di Teheran memprotes kejatuhan mata uang rial, melejitnya inflasi, dan mencekik kehidupan rakyat. Protes itu menjalar cepat ke kota-kota Iran dan isunya berubah dari isu ekonomi menjadi isu politik. Agen-agen Israel dan AS di sana mengorkestrasi pemberontakan.

Amblasnya ekonomi Iran tak bisa dilepaskan dari sanksi AS dan sekutu Barat setelah berdirinya Republik Islam pada 1979 melalui revolusi pimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini. Revolusi itu menghancurkan Nixon Doctrine yang membangun Poros Israel-Iran untuk mengimbangi Arab. Runtuhnya Monarki Pahlevi membuat konstelasi politik Timteng berubah.

Israel menjadi rentan setelah perang 1973 menghadapi Mesir dan Suriah tak lagi menghasilkan kemenangan. Maka, perdamaian dengan Mesir, tulang punggung militer Arab, pada 1979 bukan lagi opsi, melainkan esensial. Israel rela melepaskan seluruh Sinai milik Mesir yang dicaplok Israel pada 1967. Tapi hal itu tak mengurangi kerentanan Israel menghadapi Iran.

Setelah diembargo AS dan Barat, Iran juga harus berperang dengan Irak di bawah Presiden Saddam Hussein selama delapan tahun (1980-1988). Perang  menguras lebih jauh sumber daya ekonomi Iran. Munculnya ISIS yang  menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah pada 2014  membuat AS butuh bantuan Iran untuk menghancurkannya. Maka, pada 2015 AS ikut menandatangani kesepakatan nuklir Iran (JCPOA).

JCPOA mengharuskan Iran membatasi pengayaan uraniumnya hanya pada aras 3,67 persen yang sejalan dengan Pakta Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Pengawas nuklir PBB (IAEA) diberi wewenang mengawasi program nuklir Iran secara ketat. Sebagai imbalan, Iran bebas mengekspor minyaknya ke pasar global. Selama tiga tahun kesepakatan ini berjalan dengan memuaskan sampai AS pimpinan Trump mundur secara sepihak pada 2018.

Mundurnya Trump pada periode pertama pemerintahannya (2017-2021) itu tak bisa dilepaskan dari pandangannya mengenai Strategi Keamanan Nasional AS dan rayuan Netanyahu. Tak kurang penting, negara-negara Arab Teluk pun tak puasa dengan kesepakatan itu karena tidak mencakup keharusan Iran menghentikan program rudal balistiknya dan tak lagi mencampuri urusan domestik di Irak, Lebanon, dan Yaman.

Sama sebagaimana keprihatinan Arab Teluk, Netanyahu dan Trump juga melihat keleluasaan Iran mengekspor minyaknya dan melanjutkan program rudal balistik serta politik ekspansifnya membuat Iran terlihat sebagai ancaman nyata bagi kepentingan mereka. Kendati Trump telah mundur dari JCPOA, Iran masih patuh pada kesepakatan itu karena penandatangan lain –  Rusia, Cina, Perancis, Inggris, dan Jerman --  tetap berkomitmen.

Bagaimanapun, segera setelah AS mundur, inflasi di Iran langsung melejit yang memicu demonstrasi di mana-mana. Tetapi Teheran bisa mengatasinya karena masih punya anggaran untuk meningkatkan subsidi bahan pokok pada...

Read Entire Article